081 339 324 130
smak_giovani@yahoo.com
Kupang, Nusa Tenggara Timur, INA. 85111
blog-img
06/08/2022

SMA Katolik Giovanni Kupang Menjadi Tamu Kehormatan Pada HUT TVRI NTT

Libertino Agusto Dias | Prestasi

 

Mediator.Givans.com. Menyongsong HUT TVRI saluran Nusa Tenggara Timur yang ke-37, dilaksanakan event bertajuk Karya Jurnalistik. Kategori-kategori dalam Event ini antara lain; Reportase untuk tingkat SMP, Feature untuk tingkat SMA/SMK, dan Iklan Layanan Masyarakat untuk tingkat Mahasiswa / Umum. SMA Katolik Giovanni Kupang, seusai mendapat undangan ini langsung merespon dengan membentuk tim yang terdiri dari 5 orang yaitu Zandrina Yualita Manafe (Creative Director), Ni Luh Putu Agata Putri Suamba (Script Writer), Verosalia Jessica Keli (Reporter/Voice Over), Jaqline Marlena Benu (Editor), dan Nicolas Tualaka (Cameraman). Hasil kerja mereka mampu menghipnotis dewan juri untuk mendaulat tim ini menjadi juara pertama bagi kategori Feature untuk tingkat SMA/SMK.


Tim ini secara langsung dibimbing oleh Jagat Prawira Sutopo selaku pengembang dan pengajar program unggulan, Digitalpreneur di SMA Katolik Giovanni Kupang. Ia secara khusus memberikan bimbingan dan arahan bagi tim untuk mampu menentukan pilihan pada tema dan konsep yang nantinya bisa diulas menjadi sebuah tontonan yang menarik nan mendidik. Hal ini secara langsung disampaikan beliau kepada Humas SMA Katolik Giovanni Kupang yang dijumpai di kediamannya pada Sabtu, 30 Juli 2022 terkait proses persiapan, pembuatan video, hingga menjadi juara.


“Dalam rangka turut memeriahkan HUT TVRI NTT ke-37, saya langsung membentuk tim kerja yang terdiri dari peserta didik untuk mengikuti perlombaan Kategori Feature dengan tema “Sosok Inspiratif di Lingkungan Sekitar". Saya arahkan anak-anak untuk brainstorming dan research secara tim untuk menentukan topik dan konsep yang menarik. Mereka akhirnya sepakat untuk memilih judul Lestari Seni di Tangan Sang Budaya Milenial,” jelasnya.


“Untuk waktu pengerjaan video, kami diberi waktu selama 2 minggu oleh panitia untuk menggarap karya video bertema feature. Ini waktu yang tergolong cukup singkat untuk membuat karya jurnalistik bertemakan feature dengan hiasan cinematic documentary. Durasi setiap video maksimal 4 menit. Pembatasan waktu ini sesuai dengan aturan standar penayangan di TV, sehingga mendorong kami menghasilkan karya feature yang singkat namun berisi. Hasil garapan harus padat, jelas, dan menarik untuk ditonton,” ungkapnya.


“Kriteria dalam perlombaan ini meliputi 15 indikator  penilaian yang tertuang dalam hasil kerja kreatif peserta lomba, antara lain; (1) tema dan judul, (2) kesesuaian judul dengan isi berita, (3) konten / isi berita, (4) penggunaan bahasa jurnalistik, (5) durasi maksimal 4 Menit, (6) pencahayaan, (7) audio, (8) sinematografi, (9) editing, (10) komposisi kamera, (11) penggunaan hak cipta, (12) kreatifitas, (13) artikulasi dan intonasi, (14) penguasaan materi, dan (15) keselarasan penyampaian materi. Kriteria tersebut menjadikan ajang ini sangatlah bergengsi dibuktikan dengan 86 peserta yang turut ambil bagian. Saya sebagai pembina merasa tertantang untuk membimbing anak-anak dan mereka sendiri sangatlah antusias dan bersemangat dalam proses produksi karya ini,” tutur Wira.


“Saya sangatlah bangga dengan prestasi anak-anak menjuarai ajang perlombaan karya jurnalistik. Potensi anak-anak memang sangat luar biasa, sehingga saya kemarin pada penyerahan piala dan sertifikat penghargaan, saya sampaikan kepada ketua panitia, kalau bisa TVRI NTT membuat program magang untuk siswa SMA/SMK, khususnya untuk SMA Katolik Giovanni. Harapan saya dengan program magang ini mereka bisa belajar dan mengasah skills di industri media secara langsung,” tutup Wira.


Zandrina Manafe yang dimintai keterangan secara terpisah juga menuturkan rasa puas akan keberhasilan yang ia peroleh bersama timnya. Ia menuturkan hasil ini tidak terlepas dari proses yang mereka lalui, ada suka dan duka menjadi cita rasa pelengkap kebahagiaan mereka.


“Proses persiapan yang kami lakukan begitu singkat karena deadline dari panitia hanya 2 minggu saja, ditambah lagi kesibukan di sekolah, mau tidak mau kami harus pandai mengatur waktu secara baik. Dalam proses penggarapan video ini, kami langsung terjun ke lapangan selama seminggu untuk mendapatkan data-data dari narasumber, sembari menyesuaikan waktu dengan narasumber, Jemmy Pragina Gong yang jadwalnya cukup padat. Ini juga merupakan pengalaman pertama terjun ke dunia videografi, sehingga dalam proses pembuatannya kami masih harus belajar banyak hal. Untungnya, kami punya Pak Wira yang sangat kompeten dan dengan penuh kesabaran melatih dan memberikan bimbingan. Kami pelajari juga proses editing yang cukup menguras tenaga dan waktu karena dibutuhkan kecermatan dan ketelitian tingkat tinggi. Pada akhirnya dengan penuh kesabaran dan semangat, kami bisa menyelesaikan dan didaulat menjadi juara pertama untuk kategori Feature tingkat SMA/SMK,” ucap gadis berdarah Rote ini.


“Alasan mengapa kami memilih Jemmy Pragina Gong sebagai narasumber dikarenakan beliau adalah salah satu budayawan milenial dan kebetulan juga sesuai dengan judul yang mau kami garap. Tujuan kami pada dasarnya adalah menggali kebudayaan dan perjuangan beliau mencapai kesuksesan. Kami selama seminggu bersama dirinya memperoleh kesan baik terhadap Jemmy saat memberikan informasi dan sangat rendah hati dalam bekerja serta ia memiliki jiwa pejuang yang tidak kenal lelah dalam mengejar cita-cita, terutama ia memiliki ambisi positif dalam membangun budaya di NTT,” cerita Zandrina.


Ajang ini sendiri memberikan dampak positif bagi Zandrina yang kini masih duduk di bangku kelas XII di SMA Katolik Giovanni Kupang. Perlombaan ini tidak sebatas memperoleh juara tetapi memberikan modal bagi dirinya dan tim menapaki cita-cita mereka.

“Menurut saya event ini diadakan untuk memberikan ruang sebebas-bebasnya dalam berkarya atau kreasi kepada anak-anak NTT di dunia jurnalistik, sehingga ke depannya mereka mampu mengembangkan skill.  Tindak lanjut dari kegiatan ini adalah kami akan terus giat berlatih dan memotivasi teman-teman lain untuk membuka ruang berkarya ke level yang lebih tinggi. Tentunya dengan bantuan pembina kami, Pak Wira dan dukungan sekolah dalam memberi ruang untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan bakat,” cerita gadis yang sering disapa Nanas oleh teman-temannya.


(MDTR/GD)


#ntt #nttbangkit #nttsejahtera #dinaspkntt #restorasipendidikan #smakgiovannikupang
#yaswarikak

Bagikan Ke:

Populer