SMA Katolik Giovanni Kupang Gelar Workshop Layanan Disabilitas, Tegaskan Komitmen Sekolah Inklusif
Kupang, 28 Februari 2026-SMA Katolik Giovanni Kupang menggelar Sosialisasi Workshop Layanan Disabilitas pada Sabtu (28/2/2026) di aula sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi kelas X dan XI, Romo Kepala Sekolah, Bapak/Ibu guru, serta sejumlah guru PPG. Workshop ini menjadi langkah nyata sekolah dalam membangun budaya inklusif dan ramah disabilitas di lingkungan pendidikan.
Acara diawali dengan sapaan dari MC, Jakobus F. Soa Folo,S.Pd. Dalam pengantarnya, ia menegaskan bahwa workshop ini bukan sekadar pembelajaran teoritis. “Kita tidak hanya belajar teori, tetapi belajar bagaimana cinta, pelayanan, dan ketaatan dinyatakan. Setiap manusia memiliki martabat dan potensi,” ujarnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan doa yang dipimpin salah seorang guru PPG, kemudian sambutan dari Romo Kepala Sekolah. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya membangun pemahaman yang benar tentang disabilitas di lingkungan sekolah.
“Pemahaman warga sekolah tentang disabilitas masih perlu diperkuat. Workshop ini lahir dari refleksi bersama bahwa ada hal-hal yang harus kita kembangkan,” tuturnya. Ia juga menegaskan bahwa setiap pribadi diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Karena itu, sekolah tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati dan kepedulian sosial.
Workshop secara resmi dibuka pukul 08.50 WITA.
Memahami Disabilitas dan Sekolah Inklusif
Sesi pertama dipandu oleh Drs. Yohanes Lelan selaku koordinator kegiatan. Ia menyampaikan tujuan workshop, yakni menyamakan pemahaman seluruh warga sekolah mengenai disabilitas.
Dua narasumber dihadirkan dalam kegiatan ini, yakni Christiani Natasya Miru, M.Psi., Psikolog, dosen Program Studi Psikologi di Universitas Nusa Cendana, serta Nurlinda Tara Tantinia, S.Pd.,Gr., guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kupang.
Materi pertama bertajuk Sekolah Inklusif untuk Semua: Memahami Disabilitas dan Menjadi Teman yang Peduli disampaikan oleh Christiani Natasya Miru. Ia menjelaskan bahwa sekolah inklusif adalah sekolah yang memberi ruang bagi semua peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus, untuk belajar dan berkembang bersama.
Salah satu siswa kelas XI, Chika, menyampaikan bahwa sekolah inklusif menyatukan anak berkebutuhan khusus dengan siswa lainnya agar semua memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang. Penjelasan tersebut diperkuat dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menjamin hak-hak penyandang disabilitas. “Lingkunganlah yang harus disesuaikan agar siswa bisa tumbuh,” tegas Christiani.
Ia memaparkan ragam disabilitas, antara lain disabilitas fisik, sensorik (hambatan penglihatan dan pendengaran), intelektual, mental/psikososial, perkembangan seperti ADHD dan speech delay, serta disabilitas ganda. Materi juga mencakup penjelasan tentang Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), beserta strategi dukungan seperti penggunaan jadwal terstruktur, komunikasi yang jelas, serta pengurangan distraksi.
Christiani menekankan empat konsep sekolah ramah disabilitas, yaitu aman (lingkungan fisik yang mendukung dan fasilitas memadai), ramah (menjunjung empati, komunikasi positif, serta bebas diskriminasi dan perundungan), adaptif (metode pembelajaran kreatif dan universal), serta kolaboratif (melibatkan orang tua, profesional, terapis, dan shadow teacher).
Ia juga memperkenalkan kerangka Universal Design for Learning (UDL) dengan tiga prinsip utama: Multiple Means of Engagement (keterlibatan), Multiple Means of Representation (penyajian materi yang variatif), dan Multiple Means of Action and Expression (beragam cara menunjukkan pemahaman).
Sebagai penutup sesi, ia mengutip pernyataan Alexander den Heijer: “When a flower doesn’t bloom, you fix the environment in which it grows, not the flower.” Kutipan ini menegaskan pentingnya memperbaiki lingkungan, bukan menyalahkan individu.
Mengenal Ragam Disabilitas Lebih Dekat
Sesi kedua dipandu oleh Nurlinda Tara Tantinia. Ia menjelaskan berbagai ragam disabilitas, mulai dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, hingga autisme. Ia menerangkan bahwa tunanetra terdiri atas tunanetra total dan low vision. Peserta juga diperkenalkan pada huruf Braille serta alat bantu tulis seperti reglet dan stylus.
Dalam sesi tunarungu, ia mempraktikkan bahasa isyarat SIBI dan BISINDO yang disambut antusias oleh para siswa. Penjelasan juga mencakup tunadaksa (hambatan fisik), gangguan sistem saraf pusat seperti lumpuh otak, serta autisme sebagai gangguan perkembangan saraf seumur hidup yang memengaruhi interaksi sosial dan komunikasi.
Menurutnya, pilar sekolah inklusif meliputi keterbukaan, kurikulum fleksibel, serta lingkungan yang aksesibel dan aman.
Antusiasme dan Refleksi
Sesi tanya jawab berlangsung aktif dengan partisipasi sejumlah siswa. Kegiatan kemudian ditutup dengan ungkapan terima kasih kepada para narasumber, doa oleh Ketua OSIS, dan sesi foto bersama.
Dalam sesi wawancara, Christiani Natasya Miru menyampaikan bahwa sebagai alumni, ia merasa bangga dan bahagia bisa kembali ke almamaternya.
“SMA Katolik Giovanni Kupang adalah tempat yang aman dan nyaman. Saya berharap para siswa tidak hanya berdampak bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Nurlinda menekankan pentingnya tidak menghakimi perspektif yang keliru tentang disabilitas. Menurutnya, kesalahan persepsi sering terjadi karena kurangnya pemahaman.
“Kita tidak bisa langsung menilai. Kita perlu menggali dulu pemahaman seseorang tentang disabilitas, lalu meluruskannya dengan pendekatan yang tepat,” jelasnya.
Dengan terselenggaranya workshop ini, SMA Katolik Giovanni Kupang menegaskan komitmennya untuk menjadi sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi ruang belajar yang inklusif, empatik, dan menghargai martabat setiap pribadi.
Teruslah melangkah lebih jauh, SMA Katolik Giovanni Kupang dalam semangat Love Service Obedience. Osis’Mdtr